Pembaca sekalian, hari ini kita sudah memasuki puasa hari ke-19 bulan Ramadhan 1432H. Alhamdulillah EYD pribadi hingga hari ini masih diberikan kesempatan Allah SWT untuk dapat menjalankan ibadah puasa dengan keadaan lebih fit dan stamina lebih terjaga. Dari pelaksanaan ibadah puasa tahun ini EYD memiliki beberapa catatan kerohanian yang mungkin berguna untuk dishare ke pembaca blog ini.

Seperti kita ketahui bersama, bulan suci Ramadhan adalah bulan dimana kita dilatih untuk meningkatkan segala amal ibadah kepada Allah SWT. Dengan harapan hasil latihan atau penggemblengan selama satu bulan penuh dapat menjadi charger untuk kita menjalani 11 bulan lainnya diluar bulan Ramadhan. Ibarat jenjang sekolah, kita sedang melaksanakan ujian untuk kenaikan kelas.

Yang menjadi catatan dan cambuk buat EYD khususnya dan untuk kita semua ada beberapa hal yang perlu dicatat untuk sama-sama kita renungkan. Pertama, puasa melatih kita untuk terbiasa terbangun lebih pagi untuk melakukan sahur dan ibadah sholat Subuh berjamaah. Nah kalau sebulan penuh ini saja kita mampu dan terbiasa melakukan itu, alangkah suksesnya Ramadhan kita kali ini jika di bulan-bulan lainnya kita biasa untuk terbangun pagi dan bergerak untuk melaksanakan sholat Subuh berjamaah di mesjid.

Lalu yang kedua, ibadah puasa telah melatih kita untuk terbiasa menghidupkan malam dengan ibadah sholat Tarawih 20 rakaat, walau kadang harus berjuang dengan rasa kantuk :) Nah alangkah suksesnya Ramadhan kali ini jika kita bisa teruskan tradisi menghidupkan malam dengan minimal melaksanakan sholat Isya berjamaah di mesjid. Memang kedua sholat ini adalah 2 waktu sholat yang berat bagi kita sebagian umat Muslim, seperti digambarkan dalam hadits

“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat subuh” (HR.Ahmad)
(semoga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang munafik..Amiin)

Yang ketiga, sebulan penuh kita dilatih untuk mengendalikan panca indera untuk tidak berbuat apa yang dilarang oleh Allah SWT seperti melihat yang tidak semestinya dilihat, menggunakan telinga untuk tidak mendengar hal-hal yang dilarang, lalu menjaga ucapan dari mengucapkan kata-kata yang dilarang dan tidak bermanfaat. Nah alangkah suksesnya Ramadhan kali ini jika latihan-latihan dalam pengendalian diri dan indra tersebut bisa kita terapkan di bulan-bulan selanjutnya di luar bulan suci Ramadhan.

Well, artikel ini sudah mulai panjang, tapi EYD tutup dulu sampai disini karena keterbatasan ilmu yang EYD miliki. Last, marilah kita sama-sama untuk merenungkan hikmah Ramadhan untuk hal-hal kecil yang kita mampu laksanakan dulu. Kalau bahasa blogger, “mosok udah 20 tahunan kita sering diuji dan dilatih mental dan akhlak dengan ibadah puasa Ramadhan, gak ada satupun sesi Ramadhan kita yang sukses menghantarkan kita ke level derajat yang lebih tinggi disisi Allah”, sapa sih yang mau tinggal kelas terus? :D

Semoga berguna.

Categories: Mengaji, Religi
Tags:

3 Responses so far.

  1. roy says:

    subhanallah . isya dengan subuh memang sholat yang paling sulit karena waktunya berat … tapi makin berat waktu untuk sholat makin banyakpahalanya..minimal alhamdullillah istri berperan penting untuk membangunkan saya sholat subuh..tapi sekarang terbiasa.mudah2 pengalaman mas bro diatas dapat menyemangati orang yang sholat subuhnya susah..bahkan kadang isya ketinggalan..wassalam

    • EYD says:

      iya sesulit-sulitnya bangun pagi untuk sholat subuh, lebih sulit lagi untuk melaksanakan Subuh berjamaah di mesjid/mushola, makanya setelah Ramadhan ini pengen meneruskan kebiasaan

  2. roy says:

    wahhhh mantan mas bro ini

Leave a Reply